Minggu, 01 Februari 2015

POSITIVE THINKING ALA PIGMALION

Pigmalion adalah seorang pemuda pembuat patung. Ia merupakan orang Yunani masa lalu sahabat kecil Archimedes. Karya ukiran dan pahatan tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu yang membuat ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pigmalion dikenal sebagai sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pigmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain lebih parah lagi". Ketika ada pembeli menawar-nawar harga, kawan Pigmalion berbisik, "Kikir betul orang itu". Tetapi Pigmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".

Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pigmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup dirumahnya". Itulah pola pandang Pigmalion. Ia tidak melihat sesuatu dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari, Pigmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, pantung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis dan menawan, tubuhnya elok menarik. Teman-teman Pigmalion berkata, "Ah, sebagus-bagusnya patung, itu hanya sekedar  petung, bukan istrimu." Tetapi Pigmalion memperlakukan patung itu layaknya manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatpnya dan dielusnya. Rupanya, para Dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pigmalion. Lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pigmalion, yaitu mendapat gadis secantik patung itu sebagai istrinya.


Begitulah. Pigmalion hidup berbahagia dengan istrinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pigmalion dikenang hingga kiniuntuk menggambarkan dampak pola yang berpikir positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya,
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh dari keberhasilan.
  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia benar-benar menjadi cerdas.
Dampak pola berpikir itu disebut dampak Pigmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
  • Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengannya, maka akhirnya dia benar-benar menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan mengganggap tetangga kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pigmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita dapat  menanamkan mindset untuk selalu berpikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk tentang orang tersebut. Maka dari itu, marilah sedini mungkin kita tanamkan pola pikir yang positif dalam semua keadaan yang menimpa kita, maka energi positif akan datang dan memberikan dampak yang positif pula, "The Power of Mind is Real". Sudahkah anda berpikir positif?

Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar