"Kita seharusnya tidak menunggu inspirasi dalam memulai
sesuatu.Tindakan selalu melahirkan inspirasi. Sedangkan, inspirasi jarang
diikuti dengan tindakan. (Frank Tibolt)"
Pak sibur adalah seorang tukang kayu tua. Ia bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan Jasa Konstruksi Delicenta. Pak Sibur menyampaikan keinginannya tersebut pada Pak Bos sang pemilik perusahaan.Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia
ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh
kedamaian bersama istri dan keluarganya meski tak akan memiliki jaminan
penghasilan lagi.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan Pak Sibur, karena salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon terakhir kali pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Pak Sibur si tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Tenaganya sudah hanya angkrik-angkrik. Lalu dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan dan konstruksi sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Namun, hasilnya bukanlah sebuah rumah yang terbaik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Pak
Sibur tak begitu peduli lagi, karena meski ia buat yang terbaik tak akan
ada kenaikan karir lagi buat usianya yang sudah lanjut. Ketika Pak Bos
sang pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,”
kata Pak Bos,”hadiah dari kami.”
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya
saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama
sekali. Dengan ratap hati kecewa ia terima kunci itu. Tangannya gemetar
dan persendian kakinya serasa dilolosi. Ia
jatuh terkulai. Setelah sadar, kini Pak Sibur menyesal harus tinggal
disebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah sesungguhnya yang terjadi pada kehidupan kita. Seringkali, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. lebih
memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan,
pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang
terbaik.
Di akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita
lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita
ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan
menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Saya
dan anda adalah ibarat si tukang kayu yang sedang membangun rumah. Setiap hari
kita mendesain, membuat pondasi, memukul paku, memasang papan, mendirikan
dinding dan atap.
Mari kita selesaikan ‘rumah’ kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya
hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh
keagungan dan kemenangan.
Hidup kita esok adalah hasil dari sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari
perhitungan sepenuhnya milik Tuhan, bukan kita, karenannya pastikan
kitapun akan masuk dalam barisan kemenangan. “Hidup adalah proyek besar
yang anda kerjakan sendiri”. Hindarilah sikap sembrono dan asal
jadi, sehingga proyek yang besar itu tidak berhasil dan mengecewakan
di akhir hayat nanti. Kesuksesan dan kebahagiaan hidup adalah hak setiap orang. Semua saja, dari lapisan manapun asal-muasal kehidupannya, mengharapkan keberhasilan pada masa depannya.
Namun, apakah semua berhasil mencapai kesuksesan itu? Jawabannya jelas. Tidak semua. Lebih
banyak yang gagal dan cita-citanya terkapar di tengah jalan. Sebagian
dari mereka tidak fokus dalam menentukan cita-cita. Ada yang tersesat
jalan, ada yang tidak tahu sama sekali jalan yang harus ditempuh. Ada juga yang pesimis dan negatif thinking sejak awal lalu akhirnya menyerah.
Adapula yang mencoba meniru-niru jalan orang lain yang diidolakannya, namun ternyata kondisinya berbeda dengan dirinya.ia
mencoba setengah mati menjadi seperti pujaannya, tetapi hal ini tak
menolong sama sekali untuk mencapai tujuan hidupnya. Kesuksesan seseorang
tentunya tidak sama karena itu adalah prestasi seseorang dalam berproses. Kita
tidak pernah mau melihat proses bagaimana ia menjadi sukses tapi hanya
melihat secara instan ia sukses. Setiap kesuksesan itu membutuhkan proses
dan tidak akan ada setiap kesuksesan itu datang tanpa sebuah proses.
So, sudahkah kita mengerjakan tugas kita sebaik-baiknya sebagaimana mengerjakan untuk diri sendiri?
Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing

Tidak ada komentar:
Posting Komentar