Selasa, 03 Februari 2015

CARA PENSIUN TRAGIS SI TUKANG KAYU

"Kita seharusnya tidak menunggu inspirasi dalam memulai sesuatu.Tindakan selalu melahirkan inspirasi. Sedangkan, inspirasi jarang diikuti dengan tindakan. (Frank Tibolt)"

Pak sibur adalah seorang tukang kayu tua. Ia bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan Jasa Konstruksi Delicenta. Pak Sibur menyampaikan keinginannya tersebut pada Pak Bos sang pemilik perusahaan.Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya meski tak akan memiliki jaminan penghasilan lagi.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan Pak Sibur, karena salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon terakhir kali pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Pak Sibur si tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Tenaganya sudah hanya angkrik-angkrik. Lalu dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan dan konstruksi sekedarnya.


Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Namun, hasilnya bukanlah sebuah rumah yang terbaik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Pak Sibur tak begitu peduli lagi, karena meski ia buat yang terbaik tak akan ada kenaikan karir lagi buat usianya yang sudah lanjut. Ketika Pak Bos sang pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,” kata Pak Bos,”hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Dengan ratap hati kecewa ia terima kunci itu. Tangannya gemetar dan persendian kakinya serasa dilolosi. Ia jatuh terkulai. Setelah sadar, kini Pak Sibur menyesal harus tinggal disebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah sesungguhnya yang terjadi pada kehidupan kita. Seringkali, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Di akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Saya dan anda adalah ibarat si tukang kayu yang sedang membangun rumah. Setiap hari kita mendesain, membuat pondasi, memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap.

Mari kita selesaikan ‘rumah’ kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kemenangan.

Hidup kita esok adalah hasil dari sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan sepenuhnya milik Tuhan, bukan kita, karenannya pastikan kitapun akan masuk dalam barisan kemenangan. “Hidup adalah proyek besar yang anda kerjakan sendiri”. Hindarilah sikap sembrono dan asal jadi, sehingga proyek yang besar itu tidak berhasil dan mengecewakan di akhir hayat nanti. Kesuksesan dan kebahagiaan hidup adalah hak setiap orang. Semua saja, dari lapisan manapun asal-muasal kehidupannya, mengharapkan keberhasilan pada masa depannya.

Namun, apakah semua berhasil mencapai kesuksesan itu? Jawabannya jelas. Tidak semua. Lebih banyak yang gagal dan cita-citanya terkapar di tengah jalan. Sebagian dari mereka tidak fokus dalam menentukan cita-cita. Ada yang tersesat jalan, ada yang tidak tahu sama sekali jalan yang harus ditempuh. Ada juga yang pesimis dan negatif thinking sejak awal lalu akhirnya menyerah.

Adapula yang mencoba meniru-niru jalan orang lain yang diidolakannya, namun ternyata kondisinya berbeda dengan dirinya.ia mencoba setengah mati menjadi seperti pujaannya, tetapi hal ini tak menolong sama sekali untuk mencapai tujuan hidupnya. Kesuksesan seseorang tentunya tidak sama karena itu adalah prestasi seseorang dalam berproses. Kita tidak pernah mau melihat proses bagaimana ia menjadi sukses tapi hanya melihat secara instan ia sukses. Setiap kesuksesan itu membutuhkan proses dan tidak akan ada setiap kesuksesan itu datang tanpa sebuah proses.
So, sudahkah kita mengerjakan tugas kita sebaik-baiknya sebagaimana mengerjakan untuk diri sendiri?

Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar