Selasa, 03 Februari 2015

NAUNGAN KASIH SAYANG SI POHON MANGGA

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon mangga besar dan anak lelaki bernama Si Ipin. Si Ipin senang bermain-main di bawah pohon mangga itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke puncak pohon memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Si Ipin sangat mencintai pohon mangga itu. Demikian pula pohon mangga sangat mencintai Si Ipin. Waktu terus belalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon mangga itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon mangga.

Wajahnya tampak sedih. “Ayo kesini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon mangga itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” Sahut Si Ipin. “ Aku ingin sekali memiliki mainan. Tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon mangga itu menyahut, “Aduh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kamu boleh mengambil semua buah manggaku dan menjualnya. Kamu bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Si Ipin sangat senang. Ia lalu memetik semua buah mangga yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu Si Ipin tak pernah datang lagi. Pohon itu kembali sedih.

Suatu hari Si Ipin datang lagi. Pohon mangga sangat senang melihatnya datang. ”Ayo bermain-main denganku.” Kata pohon mangga. “Aku tak punya waktu,” sahut Si Ipin. “Aku harus berkerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kamu menolongku?” “Aduh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kamu boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumah,” kata pohon mangga.


Kamudian Si Ipin menebang semua dahan dan ranting pohon mangga itu dan pergi dengan gembira. Pohon mangga itu juga merasa bahagia melihat Si Ipin senang. Tapi Si Ipin tak pernah kembali lagi. Pohon mangga itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, Si Ipin datang lagi. Pohon mangga merasa sangar bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon mangga. “Aku sedih,” kata Si Ipin. ”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kamu memberi aku sebuah kapal pesiar?”. ”Aduh, maaf aku tak punya kapal, tapi kamu boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kamu mau. Pergilah dan bersenang-senanglah,”

Kemudian, Si Ipin memotong batang pohon mangga itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon mangga itu. Akhirnya, Si Ipin datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku”, kata pohon mangga itu. “Aku sudah tak memiliki buah mangga lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah manggamu,” Sahut Si Ipin. ”Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kamu panjat,” kata pohon mangga. “Sekarang, Aku sudah terlalu tua untuk itu“, Sahut Si Ipin. “Aku tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekart ini,” kata pohan mangga itu sambil menitikan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” Kata akan lelaki. ”Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dan peluklah akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Si Ipin berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon mangga itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Sikap pohon mangga itu adalah sikap orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk selalu memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa Si Ipin telah besikap sangat kasar pada pohon mangga. Tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Bisakah kita memperlakukan orang tua kita dengan sikap yang lebih baik? Ah. Tentu!

Sikap begitu pentingnya sehingga dapat menjadi lebih penting daripada karakteristik-karakteristik fisik dan mental dalam suatu kepribadian, apalagi sikap kepada orang tua. Sikap yang positif begitu kuatnya sehigga dapat memperkuat ciri-ciri kepribadian. Sebaliknya, sikap yang negatif dapat meminimalkan atau meniadakan karakteristik-karakteristik yang seyogyanya menarik. Kita tentu saja tidak dapat mengatakan bahwa sikap yang positif dapat menciptakan kharisma, tetapi sikap ini dapat mendekatinya.
  • Seseorang yang mempunyai sikap yang positif datap mengubah kepribadian yang membosankan menjadi kepribadian yang di pandang orang sebagai seseorang yang menarik.
  • Sikap positif dapat membuat orang cantik menjadi dua kali lebih cantik.
  • Sikap positif dapat menarik perhatian kepada ciri-ciri istimewa dalam suatu kepribadian yang biasanya tidak menonjol.
  • Beberapa sikap positif nampaknya ”mencemerlangkan” karakteristik-karakteristik kepribadian yang lain dan dalam proses ini citra keseluruhan orang yang bersangkutan menjadi lebih bersinar dan lebih menarik bagi orang lain.

Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing

CARA PENSIUN TRAGIS SI TUKANG KAYU

"Kita seharusnya tidak menunggu inspirasi dalam memulai sesuatu.Tindakan selalu melahirkan inspirasi. Sedangkan, inspirasi jarang diikuti dengan tindakan. (Frank Tibolt)"

Pak sibur adalah seorang tukang kayu tua. Ia bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan Jasa Konstruksi Delicenta. Pak Sibur menyampaikan keinginannya tersebut pada Pak Bos sang pemilik perusahaan.Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya meski tak akan memiliki jaminan penghasilan lagi.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan Pak Sibur, karena salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon terakhir kali pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Pak Sibur si tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Tenaganya sudah hanya angkrik-angkrik. Lalu dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan dan konstruksi sekedarnya.


Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Namun, hasilnya bukanlah sebuah rumah yang terbaik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Pak Sibur tak begitu peduli lagi, karena meski ia buat yang terbaik tak akan ada kenaikan karir lagi buat usianya yang sudah lanjut. Ketika Pak Bos sang pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,” kata Pak Bos,”hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Dengan ratap hati kecewa ia terima kunci itu. Tangannya gemetar dan persendian kakinya serasa dilolosi. Ia jatuh terkulai. Setelah sadar, kini Pak Sibur menyesal harus tinggal disebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah sesungguhnya yang terjadi pada kehidupan kita. Seringkali, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Di akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Saya dan anda adalah ibarat si tukang kayu yang sedang membangun rumah. Setiap hari kita mendesain, membuat pondasi, memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap.

Mari kita selesaikan ‘rumah’ kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kemenangan.

Hidup kita esok adalah hasil dari sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan sepenuhnya milik Tuhan, bukan kita, karenannya pastikan kitapun akan masuk dalam barisan kemenangan. “Hidup adalah proyek besar yang anda kerjakan sendiri”. Hindarilah sikap sembrono dan asal jadi, sehingga proyek yang besar itu tidak berhasil dan mengecewakan di akhir hayat nanti. Kesuksesan dan kebahagiaan hidup adalah hak setiap orang. Semua saja, dari lapisan manapun asal-muasal kehidupannya, mengharapkan keberhasilan pada masa depannya.

Namun, apakah semua berhasil mencapai kesuksesan itu? Jawabannya jelas. Tidak semua. Lebih banyak yang gagal dan cita-citanya terkapar di tengah jalan. Sebagian dari mereka tidak fokus dalam menentukan cita-cita. Ada yang tersesat jalan, ada yang tidak tahu sama sekali jalan yang harus ditempuh. Ada juga yang pesimis dan negatif thinking sejak awal lalu akhirnya menyerah.

Adapula yang mencoba meniru-niru jalan orang lain yang diidolakannya, namun ternyata kondisinya berbeda dengan dirinya.ia mencoba setengah mati menjadi seperti pujaannya, tetapi hal ini tak menolong sama sekali untuk mencapai tujuan hidupnya. Kesuksesan seseorang tentunya tidak sama karena itu adalah prestasi seseorang dalam berproses. Kita tidak pernah mau melihat proses bagaimana ia menjadi sukses tapi hanya melihat secara instan ia sukses. Setiap kesuksesan itu membutuhkan proses dan tidak akan ada setiap kesuksesan itu datang tanpa sebuah proses.
So, sudahkah kita mengerjakan tugas kita sebaik-baiknya sebagaimana mengerjakan untuk diri sendiri?

Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing

DUA BENIH TANAMAN

Tentang dahsyatnya pengaruh pikiran positif dan negatif dalam diri kita, berikut ini ada sebuah kisah tentang dua benih tanaman. Ada dua benih tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Benih yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar, aku ingin menjejakkan akarku dalam di tanah ini dan menjulang kan tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingi membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingi merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk daunku”.... Dan benih itupun tumbuh semakin besar dan menjulang.

Benih yang kedua berguman... “Aku takut, jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunasku akan hilang? Tunasku ini pastia akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik aku menunggu sampai semuanya aman”.... Dan benih itupun menunggu dalam kesendirian. Beberapa pekan kemudian seekor tanah mengais tanah itu menemukan benih yang kedua tadi dan mencaploknya segera.


Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, keraguan, kebimbangan, ketakutan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka pilihlah dengan bijak. Anda benih yang mana?

Menekankan hal yang positif dan mengabaikan hal yang negatif adalah seperti menggunakan kaca pembesar. Anda dapat menggunakannya pada kabar baik dan merasa lebih nyaman, atau anda dapat membesarkan berita buruk dan membuat diri anda merana. Membesar-besarkan situasi dapat menjadi kebiasaan. Jika anda selalu memusatkan perhatian pada situasi yang sukar, akibatnya adalah pembesaran distorsi dari masalah. Barangkali akan lebih baik jika anda menggunakan lensa binokuler. Gunakanlah sisi pembesarnya untuk memandang hal-hal yang positif, dan baliklah (gunakan sisi yang lain) bilamana anda menjumpai elemen-elemen negatif untuk membuatnya lebih kecil. Sekali anda mampu mengubah citra anda untuk hanya menyoroti hal-hal yang positif, anda berada dijalur yang benar.

Tentu saja, tidak ada orang yang dapat selalu bersikap positif. Bagaimanapun sikap positif bukanlah akting; sikap positif harus tulus tumbuh dari hati. Adakalanya, bila keadaan benar-benar sukar, sikap positif menjadi mustahil, atau bahkan tidak perlu. Kita lebih mampu mengatasi hal tersebut didasarkan pada emosi atau kemarahan yang wajar daripada dengan sikap positif.
 
Bila sesuatu berjalan mulus, sikap positif akan menjadi makin kuat dan mudah dipelihara. Tetapi, sebagai manusia yakinlah bahwa pasti saja ada kejadian yang akan menguji sikap positif anda. selalu saja ada orang atau situasi yang akan menghalangi langkah anda dan menguji kemampuan anda untuh menanggulanginya. Kisah di atas hanya rekaan belaka, namun saripatinya sungguh luar biasa.

Dengan sikap positif, anda akan dapat memperkuat karir anda (faktor uang), membina hubungan persahabatan yang lebih baik (faktor kebahagiaan), dan makin dekat dengan tujuan hidup anda. Anda menang di semua bidang. Itulah sebabnya kita harus benar-benar bisa percaya bahwa sikap positif adalah kekayaan anda yang paling berharga.

Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing

Senin, 02 Februari 2015

"INI BAGUS", KATA PIGMALION!

Alkisah, Pigmalion memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Sang Raja. Ia terkenal sebagai penasehat yang sangat bijaksana. Anehnya, Pigmalion ini mempunyai kebiasaan berkomentar, “Ini bagus!” atas semua situasi dalam hidupnya, baik positif maupun negatif.

Suatu hari Sang Raja dan Pigmalion pergi berburu. Pigmalion mempersiapkan dan mengisikan peluru untuk senapan Sang Raja. Tetapi, kelihatannya Pigmalion melakukan kesalahan dalam mempersiapkan senjata tersebut, karena setelah menerima senapan itu dari temannya, senapan itu meletus dan mengenai jempolnya.

Seperti biasa Pigmalion berkomentar, “Ini bagus!”, yang kemudian dijawab oleh Raja, “Ini tidak bagus!”, dan akhirnya Raja tersebut menjebloskan Pigmalion ke penjara.

Kurang lebih setahun kemudian, Sang Raja pergi berburu ke daerah yang berbahaya. Ia ditangkap oleh sekelompok orang kanibal , kemudian dibawa ke desa mereka. Mereka mengikat tangannya dan menumpuk kayu bakar, bersiap untuk membakar Raja. Ketika mereka mendekat dan bersiap untuk menyalakan kayu tersebut,mereka melihat bahwa Sang Raja tidak mempunyai jempol. Karena percaya pada takhayul, mereka tidak pernah makan orang yang tidakk utuh anggota tubuhnya. Jadi mereka memutuskan untuk membebaskan Raja tersebut.

Dalam perjalanan pulang, Raja tersebut ingat akan kejadian yang menyebabkan dia kehilangan jempolnya dan merasa menyesal atas perlakuannya terhadap Pigmalion teman baiknya. Raja langsung pergi ke penjara untuk berbicara dengan Pigmalion. “Kamu benar”, katanya, “baguslah bahwa aku kehilangan jempolku”. Dan dia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada temnnay itu. “Saya menyesal telah menjeboskan kamu ke penjara begitu lama. Saya telah berlaku jahat kepadamu”.

“Tidak”, kata Pigmalion, “Ini bagus!”. “Apa maksudmu, ‘Ini bagus!’? bagaimana bisa bagus, aku telah memenjarakan kamu selama satu tahun.” Pigmalion menjawab, “Kalau anda tidak memenjarakan aku, aku tadi pasti bersamamu”.

Kehilangan jempol ataupun kehilangan kebebasan karena dipenjara bukanlah hal yang menyenangkan. Namun karena dua peristiwa itulah, Sang Raja dan Pigmalion tidak menemui ajalnya dalam peristiwa konyol itu.

Demikian pula dalam hidup kita, ada peristiwa yang menyebabkan kita kehilangan materi, mata pencaharian, bahkan orang yang kita sayangi. Tentu saja itu membuat kita sedih, kesal, marah, bahkan menggugat Tuhan karenanya. Beberapa di antara kita mengalami konflik batin yang panjang karena penolakan kita atas kejadian yang tidak menyenangkan itu. Ada yang menolak begitu keras, sehingga menjauh dari Tuhan.
Namun jika kita dapat mengikuti sikap Pigmalion di atas, yang secara positif menerima setiap peristiwa baik maupun buruk dalam hidup kita, niscaya suatu hari nanti kita akan menyadari adanya hikmah yag tersamar dalam setiap peristiwa yang kita alami.
Jadi, marilah belajar untuk berkata “YA” terhadap setiap peristiwa dalam hidup kita. “YA” berarti menerima tanpa syarat segala sesuatu yang direncanakan Tuhan dalam hidup ini. Pada saatnya nanti, kita akan dapat “melihat” hikmah yang tersamar dalam berbagai peristiwa dalam kehidupan kita.

Sering kali pada saat kejadian yang tidak menyenangkan menimpa, kita bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal itu terjadi? Terlebih lagi bila selama ini kita merasa telah menjadi hamba Tuhan yang baik. Mengapa hal-hal buruk masih terjadipada kita? Ada peristiwa-peristiwa dalam hidup kita yang sulit dimengerti pada saat kita mengalaminya. Kita hanya dapat berpasrah pada-Nya.

Sikap positif itu pada dasarnya adalah perwujudan nyata dari suasana jiwa yang lebih mengutamakan pada kegiatan kreatif daripada kegiatan yang menjemukan; kegembiraan daripada kesedihan; harapan daripada keputusasaan. Sikap positif adalah keadaan jiwa yang dapat dipertahankan melalui usaha-usaha secara sadar. Bila sesuatu terjadi sehingga membelokkan fokus mental seseorang ke arah yang negatif, mereka yang positif mengetahui bahwa guna memulihkan dirinya, penyesuaian harus dilakukan!.

Ubahlah mindset anda dari sekarang, perbaruilah hidup anda, dan jadikan hidup anda lebih bervariasi serta berwarna dengan pikiran yang positif. Bukankah dalam Islam juga sudah dijelaskan dalam Firman Allah SWT berupa Hadits Qudsy; "Ana 'inda dhonni 'abdi bi", - Aku tergantung prasangka hambaku kepadaku. Success is a state of mind,if you want success, start thinking of yourself as a success.

Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing

Minggu, 01 Februari 2015

POSITIVE THINKING ALA PIGMALION

Pigmalion adalah seorang pemuda pembuat patung. Ia merupakan orang Yunani masa lalu sahabat kecil Archimedes. Karya ukiran dan pahatan tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu yang membuat ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pigmalion dikenal sebagai sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pigmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain lebih parah lagi". Ketika ada pembeli menawar-nawar harga, kawan Pigmalion berbisik, "Kikir betul orang itu". Tetapi Pigmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".

Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pigmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup dirumahnya". Itulah pola pandang Pigmalion. Ia tidak melihat sesuatu dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari, Pigmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, pantung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis dan menawan, tubuhnya elok menarik. Teman-teman Pigmalion berkata, "Ah, sebagus-bagusnya patung, itu hanya sekedar  petung, bukan istrimu." Tetapi Pigmalion memperlakukan patung itu layaknya manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatpnya dan dielusnya. Rupanya, para Dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pigmalion. Lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pigmalion, yaitu mendapat gadis secantik patung itu sebagai istrinya.


Begitulah. Pigmalion hidup berbahagia dengan istrinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pigmalion dikenang hingga kiniuntuk menggambarkan dampak pola yang berpikir positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya,
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh dari keberhasilan.
  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia benar-benar menjadi cerdas.
Dampak pola berpikir itu disebut dampak Pigmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
  • Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengannya, maka akhirnya dia benar-benar menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan mengganggap tetangga kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pigmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita dapat  menanamkan mindset untuk selalu berpikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk tentang orang tersebut. Maka dari itu, marilah sedini mungkin kita tanamkan pola pikir yang positif dalam semua keadaan yang menimpa kita, maka energi positif akan datang dan memberikan dampak yang positif pula, "The Power of Mind is Real". Sudahkah anda berpikir positif?

Dikutip dari buku "Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif Lain" terbitan Mahadhika Publishing